BeritaDaerahNTTPertanian

Ubah Keringat Jadi Berkat: Strategi ‘Jemput Bola’ Timor Farm Nusantara Jadikan Petani Raja di Lahan Sendiri

7
×

Ubah Keringat Jadi Berkat: Strategi ‘Jemput Bola’ Timor Farm Nusantara Jadikan Petani Raja di Lahan Sendiri

Sebarkan artikel ini

TTU,Faktantt.Com – Dalam upaya modernisasi sektor pertanian dan peningkatan kesejahteraan petani lokal, Timor Farm Nusantara secara resmi menginisiasi kerja sama strategis dengan berbagai kelompok tani (Poktan), Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), dan Badan Usaha Milik Desa (BumDes) di wilayah Kabupaten Timor Tengah Utara.

​Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) oleh Sancho Soares Marques, selaku Direktur Timor Farm Nusantara, dengan para perwakilan petani. Kolaborasi ini difokuskan pada penyediaan fasilitas jasa alat dan mesin pertanian (Alsintan) yang terintegrasi.

​Dalam poin perjanjian tersebut, Timor Farm Nusantara berkomitmen menyediakan layanan traktor dan harvester (mesin pemanen) lengkap dengan operator terampil. Biaya jasa dipatok sebesar Rp3.000.000 per hektar, dengan skema pembayaran yang meringankan: petani cukup membayar 50% di awal, dan pelunasan dilakukan setelah masa panen berakhir.

Baca Juga:  Polemik Kasus Frans Asten: Buang Sine Nyatakan Siap Minta Maaf Secara Langsung

​Tidak hanya sekadar jasa mesin, Timor Farm Nusantara juga memberikan jaminan pasar bagi petani. Perusahaan berkomitmen membeli maksimal 50% hasil Gabah Kering Panen (GKP) milik petani dengan harga kompetitif, yakni Rp5.000 per kilogram.

​Kerja sama ini dirancang bukan hanya untuk efisiensi teknis, tetapi juga sebagai motor penggerak ekonomi desa. Terdapat tujuh manfaat utama yang akan dirasakan oleh para petani:

Baca Juga:  Sebut Nama Heriberthus Lau Secara Keliru, Buang Sine: Saya Mohon Maaf Sebesar-besarnya kepada Keluarga Besar

1.​Kemudahan Akses Teknologi: Petani lebih mudah memperoleh manfaat teknologi Alsintan modern.

2.​Efisiensi Waktu: Mempercepat proses pengolahan lahan dan masa panen.

3.Kepastian Kerja: Menjamin seluruh pekerjaan di lahan tuntas tepat waktu.

4.Menekan Biaya Produksi: Dengan sistem yang terintegrasi, beban biaya operasional petani menjadi lebih efisien.

5.Memutus Rantai Tengkulak: Memperpendek rantai pemasaran hasil panen sehingga keuntungan langsung kembali ke kantong petani.

6.Meningkatkan Nilai Tawar: Posisi tawar petani menjadi lebih kuat di hadapan pasar.

Baca Juga:  Tak Terima Difitnah, Pegawai BPBD Belu Laporkan Akun Facebook 'Buang Sine' ke Polisi

7.​Menjaga Harkat Petani: Mengukuhkan posisi petani sebagai produsen pangan yang bermartabat dan mandiri.

​”MoU ini berlaku selama satu musim tanam dan dibuat atas dasar itikad baik untuk memajukan sektor pertanian kita. Kami ingin memastikan petani tidak lagi kesulitan dalam hal permodalan mesin maupun pemasaran hasil bumi,” ujar Sancho Soares Marques saat diwawancarai mediatihar.

​Dengan adanya kolaborasi ini, diharapkan produktivitas lahan sawah di Kecamatan Biboki Anleu dan sekitarnya dapat meningkat signifikan, sekaligus menjadi model percontohan sinergi antara sektor swasta dan komunitas petani di NTT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *